Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Gerak dan Nada Kehidupan

Katanya matahari tidak akan pernah terlambat untuk bersinar. Aku sendiri saksi dari perkataan tersebut. Namun awan tebal dan deru angin membawa air hujan turun juga tidak dapat dipungkiri menghalangi sinarnya untuk dinikmati bukan? Hal tersebut membuatku kadang berharap matahari segera menunjukkan dirinya, tetapi juga terkadang membuatku tidak lagi ingin melihat matahari karena terlanjur menikmati suasana dari hujan. Kita boleh saja menghardik supaya hujan segera berhenti, tetapi Sang Penentu tentu telah mengatur. Apakah kita masih ingin mengendalikan satu hal itu saja? Sedangkan alam semesta sedang bergantung pada apa yang telah diatur Penciptanya. Bukan aku tak senang, hanya gelisah dalam diri. Tidak mudah untuk menyesuaikan irama jantungku dengan derunya dunia ini. Namun aku sadar. Aku tidak akan pernah bisa menari menikmati semuanya tanpa aku mulai memberi diri pada tabuhan genderang perang terhadap diriku sendiri. Penuh keberanian melawan pemberontakan diri. Aku hentakkan kaki da...

berbincang dengan kematian

Mungkin aku akan membuka perbincangan dengan, "halo."  Jika kutanyakan apa kabar, mungkin dia akan menjawab terlalu panjang karena pekerjaannya. Aku beberapa kali berpapasan dengannya, tetapi tampaknya dia sangat sibuk. Aku yakin dia pasti mengenaliku. Namun tampaknya dia memilih hanya untuk menyapa singkat sama seperti aku. Beberapa kali aku memikirkannya. Aku tahu suatu saat nanti aku mungkin akan berjalan bersamanya. Dia pasti akan mengantarku menghadap Seseorang kelak.  Kali ini aku sekali lagi memiliki kesempatan. Aku tak hanya sekedar menyapanya kali ini. "Apakah kau ada waktu?" Tanyaku padanya.  Dia hanya terdiam seperti biasanya. Aku tahu dia memang tidak banyak bicara dan memang tidak boleh berbicara banyak. "Maukah kau duduk sebentar denganku? Aku tidak ingin menganggu pekerjaanmu, tetapi aku ingin berbicara dengan seseorang. Semua tampak sibuk. Bahkan aku melihatmu tampak enggan untuk berbincang denganku. Namun maukah kau duduk sejenak saja ...

King for a Day

When you get what you want in your struggle for self, and the world makes you king for a day, just go to a mirror and look at yourself, and see what that man has to say. For it isn’t your father or mother or wife, whose judgement upon you must pass; the fellow whose verdict counts most in your life is the one staring back from the glass. Some people might think you’re a straight-shootin’ chum, and call you a wonderful guy, but the man in the glass says you’re only a bum, if you can’t look him straight in the eye. He’s the fellow to please your most dangerous, difficult test If the guy in the glass is your friend. You may fool the whole world down the pathway of years, and get pats on the back as you pass. But your final reward will be heartaches and tears if you’ve cheated the man in the glass by anonymous

Throught God's eyes

I am God's child. God created me and He loves me.  I was with God before I came into being.  He knew me then and He knows me now perfectly. He knows me through and through.  God loves me just the way I am. I am acceptable and lovable.  I am a beautiful child of God.  I have infinite worth.  All of creation is not complete without me.  I have been created individually. I am unique in all ways.  God created me as that unique person and He loves me.  God chose me as His own.  God lives in me and I live in Him.  He abides in me and calls me His child.  He want me to live fully and abundantly.  He frees me and gives me joy.  God gives me the gift of life throught His grace alone.  I accept God's love this day and know He will love me forever.  I thank God for the real person I am.  I thank Him for creating me and giving me life.  I thank Him for truth and love...

Bangun & Berjalanlah!

Saat ini pikiran ku tertuju pada salah satu sudut labirin yang bertuliskan, "seberapa berat masalah yang ku hadapi?" Mengapa jawabannya dapat berbeda dengan jawaban yang diberikan oleh orang lain? menyadari ini, aku tidak ingin terjebak. Aku tidak ingin terjebak pada akhir dari tujuan hidup. aku ingin merespon dengan tepat pada proses mencapai tujuan itu. Tidak menghidupkan masa lalu, tidak menggrogoti diri dengan target masa depan. Tetapi hidup dengan waktu dan kondisi sekarang. Mencoba untuk mengenali siapa diri ini, apa saja kelemahannya, namun tidak lupa juga dengan apa kelebihan yang Tuhan titipkan didalam diri ini. Belajar dari Elia yang berhadapan dengan nabi-nabi palsu dan Izebel yang menyebalkan (1 Raja. 19:1-18). Aku perlu membangun respon yang tepat. Tuhan menyediakan perbekalan yang cukup dan menyediakan penghiburan yang dibutuhkan. Apakah aku hanya akan meladeni pikiran dan perasaanku yang buruk dan kembali tertidur saja dalam perasaan depresive yang menghancur...

Baru

Terdiam. Mengusir semua pikiran buruk yang terbang memutari kepalaku. Aku tidak ingin membiarkannya membangun sarang diatas kepalaku Aku tidak ingin mereka mencabik-cabik perasaanku. Berteriak! Apapun akan aku lakukan untuk menghindari mereka membangun sarang. Akan aku mahkotai kepalaku dengan sesuatu yang menghalau mereka. Aku akan menari dengan irama dentuman yang berbeda dengan perasaanku yang tercabik oleh karena pikiranku. Tenang. Kepalaku akan ringan oleh karena mahkotaku. Tangan dan kakiku akan menarikan tarian bersama Sang Pencipta. Pikiran dan perasaanku akan mendapat nyanyian baru.

GAGAL

Tidak sedang mencoba untuk mengasihani diri. Setiap kita pernah gagal. Menghadapi rasa pahit kehidupan dan kemudian mempertanyakan dimana letak kenikmatan hidup. Mengapa langkah ini sudah sejauh ini? Rasa tidak dimengerti menyerang pertahanan diri. Namun mencoba untuk menyeleksinya dengan keterbatasan berpikir. Ya, untuk saat ini aku tidak bisa menerima dengan rasa dan tidak dapat menampung dengan pikiran. Aku harus menerima diri yang memang penuh dengan kerapuhan. Tidak ada cara lain selain maju mendorong diri. Tidak boleh berpikir. Tidak boleh merasa. Hanya harus bertindak untuk sesuatu yang benar. Jangan salah paham! Tidak berarti aku menjadi manusia yang tidak utuh karena meninggalkan perasaan dan pikiranku. Kedua hal ini memenjarakan aku dalam pusarannya yang mematikan. oleh karenanya aku harus mulai mencari kunci untuk membebaskan diri. Aku butuh waktu. Aku butuh dukungan. Aku butuh menerima diri. Aku butuh menata diri. Tidak lagi peduli betapa babak belurnya aku! Selangka...

Tawa aku dan Dia

Pemandangan baru, suasana baru. Terimakasih kuucapkan kepada Allah Sang Pencipta. Kesempatan untuk duduk dan menikmati sejenak keindahan ini. Langkah kakiku masih kokoh, karena Allah yang terus memandu perjalanan ini. Saat ini, aku hanya membayangkan Allah sedang duduk bersamaku di rerumputan dan memandangku dengan lembut dan tersenyum. Aku tak mampu membayangkan apa yang kami cakapkan. Mungkin sebuah canda tawa dari cerita-Nya sewaktu menjadi manusia. Pernahkah kamu membayangkan bagaimana suara tawa dan raut wajah-Nya ketika tertawa bersukacita? Bagaimana mengecap sukacita ilahi? Seperti apa rasanya? Kini aku merasakan tawa itu. Penuh ucapan syukur dan menikmati akan karya-Nya. Bukankah Ia, Allah yang meminta anak-anak-Nya untuk bersukacita? Meski ketika kesukaran itu menghadang? Ya! Allah tetap memegang tangan kita. Ini adalah bagian dari imaginasi ku yang paling berharga, melihat Allah menghiburku. Memandang pemandangan karya-Nya dengan senyum melengkung diwajahnya sambil meny...

Di Bawah Bulan yang Sama

“Di bawah bulan yang sama,” ucap seorang rekan menahan diri dari perpisahan kami beberapa tahun lalu. Di bawah bulan yang sama kita akan melakukan perjalanan kehidupan kita selanjutnya. Aku rasa tidak di bawah bulan yang sama saja kita melanjutkan, tetapi dibawah pimpinan Allah yang sama kita berjalan. Dimana pun kalian berada, sempat heboh kita menantikan bulan yang memamerkan dirinya dalam rupa yang berbeda dan menghabiskan waktu persiapan 150 tahun lamanya untuk sang bulan menunjukkan dirinya. Mungkin masih tersipu malu dia untuk menunjukkan dirinya padaku, tetapi mungkin tidak untuk kalian. Dari tempatku berada, awan dengan cemburunya menutupi sang rembulan. Apa daya aku dibawah kolong langit ini, hanya menyaksikan sebagian. Tak apalah, melalui ini aku harus bersyukur bahwa bulan yang sama itu mengingatkan janji bahwa kita saling mendoakan dibawah kolong langit ini. Disini aku pun melanjutkan perjalanan, perhentianku sudah cukup untuk menemukan benih harapan. Hari ini kusiram k...

Kutemukan

Hari ini aku merasakan sebuah kebangkitan dari sebuah langkah yang gagal. Rasa sakit itu masih terasa, rasa kecewa akan kegagalan itu masih terngiang. Namun hari ini hadir sebuah benih harapan untuk memulai kembali langkah kegagalan itu dengan rasa sakit yang masih terasa setiap langkah. Ini baru sehari aku memulai. Besok benih itu masih terus harus disiram. Sampai kapan? Sampai harapan itu menampakkan tunasnya . Aku akan menanamnya disuatu tempat nanti dalam perjalanan ini, hingga jika suatu waktu kelak aku terjatuh, aku akan melihat ujung dari pohon harapan itu menjulang tinggi memberikan semangatnya padaku yang sedang terjatuh. Sekaligus menjadi pertanda bahwa Allah telah pernah menolongku. Bukankah Dia juga akan kembali menolongku? Adalah baik bagiku untuk mengalami kegagalan itu, sehingga aku menemukan sebuah benih didepan mataku ketika aku terjatuh. Memberikan sebuah tugas baru untuk aku melangkahkan kaki dengan lebih kokoh dengan yakin akan pertolongan Ilahi dari Allah. Sehi...

Membuka bekal

“Strength does not come from winning. Your struggles develop your strengths. When you go through hardships and decide not to surrender, that is strength… sanctification is a messy process which involves making the same mistakes over and over again, and that’s part of the process of developing the strength to walk out the journey better.” Sepenggal tulisan yang aku baca, entah dari mana asalnya. Aku memuji Engkau ya Allahku yang menuntun perjalananku dengan memberikan perbekalan yang cukup. Melalui perbekalan yang cukup, terkadang jiwa ini begitu ragu dan takut untuk membuka perbekalannya tersebut. Karena menyadari bahwa dengan membuka perbekalan tersebut, ada tanggung jawab yang harus dilakukan setelahnya. Dengan keunikan pribadi ini, kesadaran untuk rela membuka dan mempergunakan perbekalan tersebut seperti akan mendatangkan beban yang berat. Padahal, perbekalan itu memang dimaksudkan untuk dipergunakan selama perjalanan. Bahkan perhentiannya disediakan Allah untuk berdiam diri b...

Teman Kopi

Kopi untuk berdua. Rehat sejenak dari pekerjaan dihari minggu ini. Sambil menunggu dalam riuh rendah suara dari sekeliling kami. Kami masing-masing dengan duninya. Entah apa yang orang lain pikirkan dalam pikiran mereka. Aku hanya mencoba untuk menebak-nebak apa yang sedang dirasakan. Menarik napas perlahan, menghembuskannya, sambil mengingat akan kebaikan Tuhan. Menyediakan waktu seperti ini sesungguhnya sangat gampang, tetapi entah mengapa terasa sangat berat dihari biasa dan dalam kegiatan-kegiatannya yang menguras pikiran dan perasaan. Padahal dengan beberapa menit saja, ada kekuatan dari dalam diri yang muncul mendorong semangat yang sebelumnya enggan untuk keluar. Duduklah dengan secangkir kopi, jika tubuhmu berontak padanya, secangkir teh mungkin menenangkannya. Segelas coklat pun dapat menjadi pilihan menyenangkan. Air putih juga tampaknya dapat menjadi teman yang baik buat kamu yang ingin selalu sehat dalam pilihan. Namun yang pasti, sediakanlah waktu bagi dirimu sendiri. ...

Senandung basah kuyup

Beberapa orang akan sangat dapat menikmati perjalanannya. Meskipun ditengah hujan mengguyur deras dan kemudian mempermainkan kami dengan berhenti setelah tubuh kami basah kuyup. Dengan leluconnya meninggalkan rasa dingin menusuk. Ditengah perjalanan yang demikian, suara dari belakang bersenandung dengan berbagai irama yang kaya. Dari balada cinta yang kandas tak sampai, dilanjut alunan suara berbahasa batak yang tak ku mengerti isinya (mungkin lagu untuk mamaknya yang di kampung sana pikirku, maklum, anak mamaknya dia), hingga pada jeritan underground yang tak jelas ditelingaku. Dia menikmati perjalanannya dibangku boncengan, itu yang aku tahu. Sebagai pengendara, pikiranku bertabrakan dengan perenungan sesaat. Dua anak manusia, dalam perjalanan yang sama, dengan tujuan yang sama, tetapi dengan pikiran dan perasaan yang berbeda. Cukup terhibur dan geli dihati aku mendengar suara dibelakangku yang cukup fals dalam keriangan irama dan sendu getir mengenai kisah cintanya. Mungkin angin p...

Sudut pandangku

Karena kita melihat dunia dengan berbeda. Fokusnya mempengaruhi perjalanannya. Orang lain tidak dapat memandang dari fokus yang sama denganmu. Mengapa? Karena pada setiap diri kita memiliki keunikan. Setiap kita unik adanya. Dalam kepribadiannya, dalam pikirannya, dalam merasa kehidupannya, dan dalam merespon proses perjalanan kehidupannya. Mereka mungkin tidak akan mengerti cara pikiranmu, persaanmu, dan tingkah lakumu. Karena mereka tidak memandang dari sudut pandangmu. Apakah mereka salah? Tentu saja tidak selalu, jangan-jangan sudut pandang ini yang memang perlu diatur kembali agar jelas. Namun, dapat juga sudut pandang merekalah yang salah atau sudut pandang yang berbeda itu perlu dipadukan agar melihat perjalanan kehidupan ini lebih lengkap. Mengapa tidak berjalan bersama? Melihat Allah dengan jelas dengan saling mengisi. Mungkin rekan seperjalanan itu kamu? Rekan yang Allah sediakan untuk menemani perjalanku, dan aku rekan perjalanan dari Allah bagimu. Iya, berdua bersama kamu...

Perbekalan yang cukup

Hei Allah yang memanggilmu! Apakah dia tidak mengenali kemampuan dan kapasitasmu dalam mengerjakan panggilannya? Jika kamu kekurangan, mintalah. Bahkan jika permintaanmu itu membawamu pada arah yang salah, Dia adalah Allah yang rela membiarkan diri-Nya untuk memenuhi kebutuhanmu—hanya untuk memberikan kesadaran pada dirimu. Berjalanlah terus dengan kesadaran akan tujuan dari perjalananmu. Jangan biarkan bising perjalananmu membuatmu berhenti dan hilang arah. Jika terik matahari kau rasa, mintalah perteduhan pada-Nya. Jika menggigil kau rasa saat malam nanti perjalanan-Mu, mintalah kekuatan padanya untuk menerobos dinginnya jalanmu. Apa yang ada padamu? Cukuplah itu. Karena Pemandumu berjalan di depanmu dan sigap memapahmu disaat engkau tak lagi mampu. Apa yang ada padamu? Anugerah Allah, cukuplah itu. Namun jika kau rasa tak cukup, mintalah. Apabila Allah berkata cukup anugera-Nya cukupkanlah dirimu dengan perbekalan yang ada padamu.

Siapkah kamu untuk memulai?

Segala sesuatu ada awalnya. Tidak ada perjalanan tanpa ada langkah pertama. Mungkin akan ada perhentian, tetapi harus ada langkah setelahnya. Hampir putus asa dengan blog dari provider lain yang sudah lama tidak dapat dibuka. Kini, langkah selanjutnya dimulai disini.  Siapa yang dapat menebak didepan ada apa? Sebatas mata memandang, aku beranikan diri mendengar degup jantungku sendiri. Entah dalam kecemasan, entah dalam semangat, aku mau berani jujur dengan diriku dan kemudian berkata, “tidak apa,  berjalanlah... bukankah Penciptamu ada dipihakmu? Berjalanlah!” Untuk kamu yang saat ini sedang berputus asa, dengarkanlah suara jantungmu. Ingatlah siapa Penciptamu—yang segala sesuatu berada dalam kontrolnya. Tidakkah demikian juga dengan hidupmu? Beranilah menerimanya dan melangkahlah.