Di Bawah Bulan yang Sama
“Di bawah bulan yang sama,” ucap seorang rekan menahan diri dari perpisahan kami beberapa tahun lalu. Di bawah bulan yang sama kita akan melakukan perjalanan kehidupan kita selanjutnya. Aku rasa tidak di bawah bulan yang sama saja kita melanjutkan, tetapi dibawah pimpinan Allah yang sama kita berjalan.
Dimana pun kalian berada, sempat heboh kita menantikan bulan yang memamerkan dirinya dalam rupa yang berbeda dan menghabiskan waktu persiapan 150 tahun lamanya untuk sang bulan menunjukkan dirinya. Mungkin masih tersipu malu dia untuk menunjukkan dirinya padaku, tetapi mungkin tidak untuk kalian. Dari tempatku berada, awan dengan cemburunya menutupi sang rembulan. Apa daya aku dibawah kolong langit ini, hanya menyaksikan sebagian. Tak apalah, melalui ini aku harus bersyukur bahwa bulan yang sama itu mengingatkan janji bahwa kita saling mendoakan dibawah kolong langit ini.
Disini aku pun melanjutkan perjalanan, perhentianku sudah cukup untuk menemukan benih harapan. Hari ini kusiram kembali, sambil melibatkan rekan-rekan musafir di khalifah yang kami bangun sesaat. Semoga mereka pun memberikan perhatian pada benih itu, sehingga kami sama-sama memeliharanya. Hingga kelak ia akan menjadi pohon harapan yang menjulang tinggi sebagai pengingat kami akan Sang Pencipta kami, Tempat Perteduhan bagi jiwa yang kelelahan.
Dimana pun kalian berada, sempat heboh kita menantikan bulan yang memamerkan dirinya dalam rupa yang berbeda dan menghabiskan waktu persiapan 150 tahun lamanya untuk sang bulan menunjukkan dirinya. Mungkin masih tersipu malu dia untuk menunjukkan dirinya padaku, tetapi mungkin tidak untuk kalian. Dari tempatku berada, awan dengan cemburunya menutupi sang rembulan. Apa daya aku dibawah kolong langit ini, hanya menyaksikan sebagian. Tak apalah, melalui ini aku harus bersyukur bahwa bulan yang sama itu mengingatkan janji bahwa kita saling mendoakan dibawah kolong langit ini.
Disini aku pun melanjutkan perjalanan, perhentianku sudah cukup untuk menemukan benih harapan. Hari ini kusiram kembali, sambil melibatkan rekan-rekan musafir di khalifah yang kami bangun sesaat. Semoga mereka pun memberikan perhatian pada benih itu, sehingga kami sama-sama memeliharanya. Hingga kelak ia akan menjadi pohon harapan yang menjulang tinggi sebagai pengingat kami akan Sang Pencipta kami, Tempat Perteduhan bagi jiwa yang kelelahan.
Komentar
Posting Komentar