Membuka bekal
“Strength does not come from winning. Your struggles develop your strengths. When you go through hardships and decide not to surrender, that is strength… sanctification is a messy process which involves making the same mistakes over and over again, and that’s part of the process of developing the strength to walk out the journey better.”
Sepenggal tulisan yang aku baca, entah dari mana asalnya.
Aku memuji Engkau ya Allahku yang menuntun perjalananku dengan memberikan perbekalan yang cukup.
Melalui perbekalan yang cukup, terkadang jiwa ini begitu ragu dan takut untuk membuka perbekalannya tersebut. Karena menyadari bahwa dengan membuka perbekalan tersebut, ada tanggung jawab yang harus dilakukan setelahnya. Dengan keunikan pribadi ini, kesadaran untuk rela membuka dan mempergunakan perbekalan tersebut seperti akan mendatangkan beban yang berat. Padahal, perbekalan itu memang dimaksudkan untuk dipergunakan selama perjalanan. Bahkan perhentiannya disediakan Allah untuk berdiam diri bersama Allah yang memberikan kekuatan untuk menjalankan perjalan selanjutnya. Jangan mengharapkan kekuatan, jika kamu takut untuk menghadapi tantangan yang ada didepan.
Sedikit berkelana pikiranku, mungkin kantong perbekalan itu berisikan bakmi dengan potongan daging yang menggiurkan. Setelah memakannya, tentu aku perlu bergerak melanjutkan perjalanan agar perbekalan itu tercerna dengan baik dan berubah menjadi energi agar tubuhku kuat. Ah, pribadi ini memang senang makan, lalu kemudian tidur, sehingga menumpuk beban pada tubuhnya sendiri. Makin beratlah langkah kakiku olehnya. Jelas ini tidak boleh terus berlanjut. Perbekalannya itu cukup dan menghasilkan kekuatan untuk beranjak dari titik dimana aku berdiri sekarang ini.
Ngomong-ngomong, apa isi perbekalanmu? Jangan lupa berbagi dengan sesama musafir dalam perjalanan kehidupan ini. Aku menantikan seseorang memberikan komentar dibawah untuk saling berbagi bekal. Layaknya sewaktu aku berada taman kanak-kanak dulu.
Sepenggal tulisan yang aku baca, entah dari mana asalnya.
Aku memuji Engkau ya Allahku yang menuntun perjalananku dengan memberikan perbekalan yang cukup.
Melalui perbekalan yang cukup, terkadang jiwa ini begitu ragu dan takut untuk membuka perbekalannya tersebut. Karena menyadari bahwa dengan membuka perbekalan tersebut, ada tanggung jawab yang harus dilakukan setelahnya. Dengan keunikan pribadi ini, kesadaran untuk rela membuka dan mempergunakan perbekalan tersebut seperti akan mendatangkan beban yang berat. Padahal, perbekalan itu memang dimaksudkan untuk dipergunakan selama perjalanan. Bahkan perhentiannya disediakan Allah untuk berdiam diri bersama Allah yang memberikan kekuatan untuk menjalankan perjalan selanjutnya. Jangan mengharapkan kekuatan, jika kamu takut untuk menghadapi tantangan yang ada didepan.
Sedikit berkelana pikiranku, mungkin kantong perbekalan itu berisikan bakmi dengan potongan daging yang menggiurkan. Setelah memakannya, tentu aku perlu bergerak melanjutkan perjalanan agar perbekalan itu tercerna dengan baik dan berubah menjadi energi agar tubuhku kuat. Ah, pribadi ini memang senang makan, lalu kemudian tidur, sehingga menumpuk beban pada tubuhnya sendiri. Makin beratlah langkah kakiku olehnya. Jelas ini tidak boleh terus berlanjut. Perbekalannya itu cukup dan menghasilkan kekuatan untuk beranjak dari titik dimana aku berdiri sekarang ini.
Ngomong-ngomong, apa isi perbekalanmu? Jangan lupa berbagi dengan sesama musafir dalam perjalanan kehidupan ini. Aku menantikan seseorang memberikan komentar dibawah untuk saling berbagi bekal. Layaknya sewaktu aku berada taman kanak-kanak dulu.
Komentar
Posting Komentar