Gerak dan Nada Kehidupan

Katanya matahari tidak akan pernah terlambat untuk bersinar. Aku sendiri saksi dari perkataan tersebut. Namun awan tebal dan deru angin membawa air hujan turun juga tidak dapat dipungkiri menghalangi sinarnya untuk dinikmati bukan? Hal tersebut membuatku kadang berharap matahari segera menunjukkan dirinya, tetapi juga terkadang membuatku tidak lagi ingin melihat matahari karena terlanjur menikmati suasana dari hujan. Kita boleh saja menghardik supaya hujan segera berhenti, tetapi Sang Penentu tentu telah mengatur. Apakah kita masih ingin mengendalikan satu hal itu saja? Sedangkan alam semesta sedang bergantung pada apa yang telah diatur Penciptanya.
Bukan aku tak senang, hanya gelisah dalam diri. Tidak mudah untuk menyesuaikan irama jantungku dengan derunya dunia ini. Namun aku sadar. Aku tidak akan pernah bisa menari menikmati semuanya tanpa aku mulai memberi diri pada tabuhan genderang perang terhadap diriku sendiri. Penuh keberanian melawan pemberontakan diri. Aku hentakkan kaki dan mengangkat tanganku ke udara tanda berserah kepada Sang Pencipta Semesta yang menghadirkan kedamaian dan keharmonisan dalam gerak dan nada kehidupanku.

Komentar