berbincang dengan kematian

Mungkin aku akan membuka perbincangan dengan, "halo." 
Jika kutanyakan apa kabar, mungkin dia akan menjawab terlalu panjang karena pekerjaannya. Aku beberapa kali berpapasan dengannya, tetapi tampaknya dia sangat sibuk. Aku yakin dia pasti mengenaliku. Namun tampaknya dia memilih hanya untuk menyapa singkat sama seperti aku. Beberapa kali aku memikirkannya. Aku tahu suatu saat nanti aku mungkin akan berjalan bersamanya. Dia pasti akan mengantarku menghadap Seseorang kelak. 
Kali ini aku sekali lagi memiliki kesempatan. Aku tak hanya sekedar menyapanya kali ini.
"Apakah kau ada waktu?" Tanyaku padanya. 
Dia hanya terdiam seperti biasanya. Aku tahu dia memang tidak banyak bicara dan memang tidak boleh berbicara banyak.
"Maukah kau duduk sebentar denganku? Aku tidak ingin menganggu pekerjaanmu, tetapi aku ingin berbicara dengan seseorang. Semua tampak sibuk. Bahkan aku melihatmu tampak enggan untuk berbincang denganku. Namun maukah kau duduk sejenak saja beristirahat," bujukku kepadanya. 
"Aku terkadang melihatmu, tapi dalam situasi yang sulitku mengerti. Ya... kau pasti lebih mengenalinya. Tangis ratap duka di sebelahmu, tetapi canda tawa di seberangmu. Apakah kau bisa menjelaskan?" Aku mulai mendesak. 
"..." Dia tetap terdiam. 
"Ya, mungkin kelak aku akan lebih bisa mengerti dengan situasi itu. Apakah kau sudah ingin pergi? tunggulah sebentar lagi. Aku butuh berbincang sejenak lagi denganmu. Aku tidak akan mengajukan pertanyaan kapan kau akan menjemput aku untuk perjalanan itu. Aku tahu kau tidak diijinkan untuk membicarakannya. Aku juga tidak akan memaksamu untuk membawaku dalam perjalananmu. Hanya saja mereka yang hidup tampak mati-matian untuk kehidupan mereka. Aku tampak tertinggal... atau mungkin aku yang melepaskan diri dari gerombolanku. Kau lihatkan? Mereka terlampau sibuk dengan perjalannya. Ya, terkadang aku juga melihat orang-orang menepi dan menjauh dari rombongan. mungkin aku hanya salah satu dari antara mereka yang melakukan itu. Dan tebak, kali ini aku berpapasan kembali denganmu dan mencoba untuk memberanikan diri untuk mengajakmu berbincang. Ah, rasanya lega untuk dapat berbincang denganmu. Lebih tepatnya mungkin berkeluh kesah padamu. Aku mengerti meski kau tak mengucap sepatah kata pun. Namun aku bisa merasakan kehadiranmu untuk duduk bersamaku saja sudah lebih dari cukup. Terima kasih sudah mendengar keluh kesahku. Sudah waktunya kembali. Aku berharap suatu waktu kau masih mau duduk sejenak bersamaku jika berpapasan. Sehingga kelak nanti kita akan lebih akrab dalam perjalanan yang sudah disiapkan untuk kita nanti. Sampai jumpa lagi." Aku berdiri dibantu oleh kematian, lalu kami pun melanjutkan perjalanan masing-masing. 


Komentar