Tawa aku dan Dia

Pemandangan baru, suasana baru. Terimakasih kuucapkan kepada Allah Sang Pencipta. Kesempatan untuk duduk dan menikmati sejenak keindahan ini. Langkah kakiku masih kokoh, karena Allah yang terus memandu perjalanan ini. Saat ini, aku hanya membayangkan Allah sedang duduk bersamaku di rerumputan dan memandangku dengan lembut dan tersenyum.

Aku tak mampu membayangkan apa yang kami cakapkan. Mungkin sebuah canda tawa dari cerita-Nya sewaktu menjadi manusia. Pernahkah kamu membayangkan bagaimana suara tawa dan raut wajah-Nya ketika tertawa bersukacita? Bagaimana mengecap sukacita ilahi? Seperti apa rasanya?

Kini aku merasakan tawa itu. Penuh ucapan syukur dan menikmati akan karya-Nya. Bukankah Ia, Allah yang meminta anak-anak-Nya untuk bersukacita? Meski ketika kesukaran itu menghadang? Ya! Allah tetap memegang tangan kita.

Ini adalah bagian dari imaginasi ku yang paling berharga, melihat Allah menghiburku. Memandang pemandangan karya-Nya dengan senyum melengkung diwajahnya sambil menyemangati ku dan berkata… tersenyumlah, Aku dipihakmu.

Inilah hari bersama Allah yang ku kenal. Allah yang bersama-Nya aku memulai perjalanan dan bersama-Nya akan mencapai akhir.

Komentar