Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Di Bawah Bulan yang Sama

“Di bawah bulan yang sama,” ucap seorang rekan menahan diri dari perpisahan kami beberapa tahun lalu. Di bawah bulan yang sama kita akan melakukan perjalanan kehidupan kita selanjutnya. Aku rasa tidak di bawah bulan yang sama saja kita melanjutkan, tetapi dibawah pimpinan Allah yang sama kita berjalan. Dimana pun kalian berada, sempat heboh kita menantikan bulan yang memamerkan dirinya dalam rupa yang berbeda dan menghabiskan waktu persiapan 150 tahun lamanya untuk sang bulan menunjukkan dirinya. Mungkin masih tersipu malu dia untuk menunjukkan dirinya padaku, tetapi mungkin tidak untuk kalian. Dari tempatku berada, awan dengan cemburunya menutupi sang rembulan. Apa daya aku dibawah kolong langit ini, hanya menyaksikan sebagian. Tak apalah, melalui ini aku harus bersyukur bahwa bulan yang sama itu mengingatkan janji bahwa kita saling mendoakan dibawah kolong langit ini. Disini aku pun melanjutkan perjalanan, perhentianku sudah cukup untuk menemukan benih harapan. Hari ini kusiram k...

Kutemukan

Hari ini aku merasakan sebuah kebangkitan dari sebuah langkah yang gagal. Rasa sakit itu masih terasa, rasa kecewa akan kegagalan itu masih terngiang. Namun hari ini hadir sebuah benih harapan untuk memulai kembali langkah kegagalan itu dengan rasa sakit yang masih terasa setiap langkah. Ini baru sehari aku memulai. Besok benih itu masih terus harus disiram. Sampai kapan? Sampai harapan itu menampakkan tunasnya . Aku akan menanamnya disuatu tempat nanti dalam perjalanan ini, hingga jika suatu waktu kelak aku terjatuh, aku akan melihat ujung dari pohon harapan itu menjulang tinggi memberikan semangatnya padaku yang sedang terjatuh. Sekaligus menjadi pertanda bahwa Allah telah pernah menolongku. Bukankah Dia juga akan kembali menolongku? Adalah baik bagiku untuk mengalami kegagalan itu, sehingga aku menemukan sebuah benih didepan mataku ketika aku terjatuh. Memberikan sebuah tugas baru untuk aku melangkahkan kaki dengan lebih kokoh dengan yakin akan pertolongan Ilahi dari Allah. Sehi...

Membuka bekal

“Strength does not come from winning. Your struggles develop your strengths. When you go through hardships and decide not to surrender, that is strength… sanctification is a messy process which involves making the same mistakes over and over again, and that’s part of the process of developing the strength to walk out the journey better.” Sepenggal tulisan yang aku baca, entah dari mana asalnya. Aku memuji Engkau ya Allahku yang menuntun perjalananku dengan memberikan perbekalan yang cukup. Melalui perbekalan yang cukup, terkadang jiwa ini begitu ragu dan takut untuk membuka perbekalannya tersebut. Karena menyadari bahwa dengan membuka perbekalan tersebut, ada tanggung jawab yang harus dilakukan setelahnya. Dengan keunikan pribadi ini, kesadaran untuk rela membuka dan mempergunakan perbekalan tersebut seperti akan mendatangkan beban yang berat. Padahal, perbekalan itu memang dimaksudkan untuk dipergunakan selama perjalanan. Bahkan perhentiannya disediakan Allah untuk berdiam diri b...

Teman Kopi

Kopi untuk berdua. Rehat sejenak dari pekerjaan dihari minggu ini. Sambil menunggu dalam riuh rendah suara dari sekeliling kami. Kami masing-masing dengan duninya. Entah apa yang orang lain pikirkan dalam pikiran mereka. Aku hanya mencoba untuk menebak-nebak apa yang sedang dirasakan. Menarik napas perlahan, menghembuskannya, sambil mengingat akan kebaikan Tuhan. Menyediakan waktu seperti ini sesungguhnya sangat gampang, tetapi entah mengapa terasa sangat berat dihari biasa dan dalam kegiatan-kegiatannya yang menguras pikiran dan perasaan. Padahal dengan beberapa menit saja, ada kekuatan dari dalam diri yang muncul mendorong semangat yang sebelumnya enggan untuk keluar. Duduklah dengan secangkir kopi, jika tubuhmu berontak padanya, secangkir teh mungkin menenangkannya. Segelas coklat pun dapat menjadi pilihan menyenangkan. Air putih juga tampaknya dapat menjadi teman yang baik buat kamu yang ingin selalu sehat dalam pilihan. Namun yang pasti, sediakanlah waktu bagi dirimu sendiri. ...

Senandung basah kuyup

Beberapa orang akan sangat dapat menikmati perjalanannya. Meskipun ditengah hujan mengguyur deras dan kemudian mempermainkan kami dengan berhenti setelah tubuh kami basah kuyup. Dengan leluconnya meninggalkan rasa dingin menusuk. Ditengah perjalanan yang demikian, suara dari belakang bersenandung dengan berbagai irama yang kaya. Dari balada cinta yang kandas tak sampai, dilanjut alunan suara berbahasa batak yang tak ku mengerti isinya (mungkin lagu untuk mamaknya yang di kampung sana pikirku, maklum, anak mamaknya dia), hingga pada jeritan underground yang tak jelas ditelingaku. Dia menikmati perjalanannya dibangku boncengan, itu yang aku tahu. Sebagai pengendara, pikiranku bertabrakan dengan perenungan sesaat. Dua anak manusia, dalam perjalanan yang sama, dengan tujuan yang sama, tetapi dengan pikiran dan perasaan yang berbeda. Cukup terhibur dan geli dihati aku mendengar suara dibelakangku yang cukup fals dalam keriangan irama dan sendu getir mengenai kisah cintanya. Mungkin angin p...

Sudut pandangku

Karena kita melihat dunia dengan berbeda. Fokusnya mempengaruhi perjalanannya. Orang lain tidak dapat memandang dari fokus yang sama denganmu. Mengapa? Karena pada setiap diri kita memiliki keunikan. Setiap kita unik adanya. Dalam kepribadiannya, dalam pikirannya, dalam merasa kehidupannya, dan dalam merespon proses perjalanan kehidupannya. Mereka mungkin tidak akan mengerti cara pikiranmu, persaanmu, dan tingkah lakumu. Karena mereka tidak memandang dari sudut pandangmu. Apakah mereka salah? Tentu saja tidak selalu, jangan-jangan sudut pandang ini yang memang perlu diatur kembali agar jelas. Namun, dapat juga sudut pandang merekalah yang salah atau sudut pandang yang berbeda itu perlu dipadukan agar melihat perjalanan kehidupan ini lebih lengkap. Mengapa tidak berjalan bersama? Melihat Allah dengan jelas dengan saling mengisi. Mungkin rekan seperjalanan itu kamu? Rekan yang Allah sediakan untuk menemani perjalanku, dan aku rekan perjalanan dari Allah bagimu. Iya, berdua bersama kamu...

Perbekalan yang cukup

Hei Allah yang memanggilmu! Apakah dia tidak mengenali kemampuan dan kapasitasmu dalam mengerjakan panggilannya? Jika kamu kekurangan, mintalah. Bahkan jika permintaanmu itu membawamu pada arah yang salah, Dia adalah Allah yang rela membiarkan diri-Nya untuk memenuhi kebutuhanmu—hanya untuk memberikan kesadaran pada dirimu. Berjalanlah terus dengan kesadaran akan tujuan dari perjalananmu. Jangan biarkan bising perjalananmu membuatmu berhenti dan hilang arah. Jika terik matahari kau rasa, mintalah perteduhan pada-Nya. Jika menggigil kau rasa saat malam nanti perjalanan-Mu, mintalah kekuatan padanya untuk menerobos dinginnya jalanmu. Apa yang ada padamu? Cukuplah itu. Karena Pemandumu berjalan di depanmu dan sigap memapahmu disaat engkau tak lagi mampu. Apa yang ada padamu? Anugerah Allah, cukuplah itu. Namun jika kau rasa tak cukup, mintalah. Apabila Allah berkata cukup anugera-Nya cukupkanlah dirimu dengan perbekalan yang ada padamu.

Siapkah kamu untuk memulai?

Segala sesuatu ada awalnya. Tidak ada perjalanan tanpa ada langkah pertama. Mungkin akan ada perhentian, tetapi harus ada langkah setelahnya. Hampir putus asa dengan blog dari provider lain yang sudah lama tidak dapat dibuka. Kini, langkah selanjutnya dimulai disini.  Siapa yang dapat menebak didepan ada apa? Sebatas mata memandang, aku beranikan diri mendengar degup jantungku sendiri. Entah dalam kecemasan, entah dalam semangat, aku mau berani jujur dengan diriku dan kemudian berkata, “tidak apa,  berjalanlah... bukankah Penciptamu ada dipihakmu? Berjalanlah!” Untuk kamu yang saat ini sedang berputus asa, dengarkanlah suara jantungmu. Ingatlah siapa Penciptamu—yang segala sesuatu berada dalam kontrolnya. Tidakkah demikian juga dengan hidupmu? Beranilah menerimanya dan melangkahlah.