Postingan

Berikan judul ceritamu sendiri!

Setelah sekian lama kehilangan password (waktu, dan minat tepatnya), akhirnya memulai kembali untuk menuangkan isi pikiran dan perasaan. Mungkin respon jiwa ini tepat... kembali menulis. Banyak hal telah terjadi semenjak tulisan terakhir. Baik suka maupun yang menyeretku kepada perasaan getir, dan benar saja dari tarik ulur kedua dimensi itu memaksa kita semua untuk berubah. Paling tidak menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada diluar diri kita.  Pemahaman untuk berhenti mengubah dan mengontrol sesuatu yang tidak dapat dikendalikan adalah hal yang tepat untuk perubahan-perubahan yang terjadi. Artinya, diri ini pun tidak dapat tidak, harus berubah agar dapat harmoni dengan apa yang terjadi di sekitar. Pikiran dan perasaaanmu sendiri pun dapat berkontradiksi satu dengan yang lainnya, melawanmu! Padahal mereka tinggal dalam raga yang sama. Aneh, tapi itu terjadi dan itu membuatmu menjadi frustasi. Mana! mana diantara keduanya yang benar? Aku berhenti pada memperdebatkan mana yang...

Gerak dan Nada Kehidupan

Katanya matahari tidak akan pernah terlambat untuk bersinar. Aku sendiri saksi dari perkataan tersebut. Namun awan tebal dan deru angin membawa air hujan turun juga tidak dapat dipungkiri menghalangi sinarnya untuk dinikmati bukan? Hal tersebut membuatku kadang berharap matahari segera menunjukkan dirinya, tetapi juga terkadang membuatku tidak lagi ingin melihat matahari karena terlanjur menikmati suasana dari hujan. Kita boleh saja menghardik supaya hujan segera berhenti, tetapi Sang Penentu tentu telah mengatur. Apakah kita masih ingin mengendalikan satu hal itu saja? Sedangkan alam semesta sedang bergantung pada apa yang telah diatur Penciptanya. Bukan aku tak senang, hanya gelisah dalam diri. Tidak mudah untuk menyesuaikan irama jantungku dengan derunya dunia ini. Namun aku sadar. Aku tidak akan pernah bisa menari menikmati semuanya tanpa aku mulai memberi diri pada tabuhan genderang perang terhadap diriku sendiri. Penuh keberanian melawan pemberontakan diri. Aku hentakkan kaki da...

berbincang dengan kematian

Mungkin aku akan membuka perbincangan dengan, "halo."  Jika kutanyakan apa kabar, mungkin dia akan menjawab terlalu panjang karena pekerjaannya. Aku beberapa kali berpapasan dengannya, tetapi tampaknya dia sangat sibuk. Aku yakin dia pasti mengenaliku. Namun tampaknya dia memilih hanya untuk menyapa singkat sama seperti aku. Beberapa kali aku memikirkannya. Aku tahu suatu saat nanti aku mungkin akan berjalan bersamanya. Dia pasti akan mengantarku menghadap Seseorang kelak.  Kali ini aku sekali lagi memiliki kesempatan. Aku tak hanya sekedar menyapanya kali ini. "Apakah kau ada waktu?" Tanyaku padanya.  Dia hanya terdiam seperti biasanya. Aku tahu dia memang tidak banyak bicara dan memang tidak boleh berbicara banyak. "Maukah kau duduk sebentar denganku? Aku tidak ingin menganggu pekerjaanmu, tetapi aku ingin berbicara dengan seseorang. Semua tampak sibuk. Bahkan aku melihatmu tampak enggan untuk berbincang denganku. Namun maukah kau duduk sejenak saja ...

King for a Day

When you get what you want in your struggle for self, and the world makes you king for a day, just go to a mirror and look at yourself, and see what that man has to say. For it isn’t your father or mother or wife, whose judgement upon you must pass; the fellow whose verdict counts most in your life is the one staring back from the glass. Some people might think you’re a straight-shootin’ chum, and call you a wonderful guy, but the man in the glass says you’re only a bum, if you can’t look him straight in the eye. He’s the fellow to please your most dangerous, difficult test If the guy in the glass is your friend. You may fool the whole world down the pathway of years, and get pats on the back as you pass. But your final reward will be heartaches and tears if you’ve cheated the man in the glass by anonymous

Throught God's eyes

I am God's child. God created me and He loves me.  I was with God before I came into being.  He knew me then and He knows me now perfectly. He knows me through and through.  God loves me just the way I am. I am acceptable and lovable.  I am a beautiful child of God.  I have infinite worth.  All of creation is not complete without me.  I have been created individually. I am unique in all ways.  God created me as that unique person and He loves me.  God chose me as His own.  God lives in me and I live in Him.  He abides in me and calls me His child.  He want me to live fully and abundantly.  He frees me and gives me joy.  God gives me the gift of life throught His grace alone.  I accept God's love this day and know He will love me forever.  I thank God for the real person I am.  I thank Him for creating me and giving me life.  I thank Him for truth and love...

Bangun & Berjalanlah!

Saat ini pikiran ku tertuju pada salah satu sudut labirin yang bertuliskan, "seberapa berat masalah yang ku hadapi?" Mengapa jawabannya dapat berbeda dengan jawaban yang diberikan oleh orang lain? menyadari ini, aku tidak ingin terjebak. Aku tidak ingin terjebak pada akhir dari tujuan hidup. aku ingin merespon dengan tepat pada proses mencapai tujuan itu. Tidak menghidupkan masa lalu, tidak menggrogoti diri dengan target masa depan. Tetapi hidup dengan waktu dan kondisi sekarang. Mencoba untuk mengenali siapa diri ini, apa saja kelemahannya, namun tidak lupa juga dengan apa kelebihan yang Tuhan titipkan didalam diri ini. Belajar dari Elia yang berhadapan dengan nabi-nabi palsu dan Izebel yang menyebalkan (1 Raja. 19:1-18). Aku perlu membangun respon yang tepat. Tuhan menyediakan perbekalan yang cukup dan menyediakan penghiburan yang dibutuhkan. Apakah aku hanya akan meladeni pikiran dan perasaanku yang buruk dan kembali tertidur saja dalam perasaan depresive yang menghancur...

Baru

Terdiam. Mengusir semua pikiran buruk yang terbang memutari kepalaku. Aku tidak ingin membiarkannya membangun sarang diatas kepalaku Aku tidak ingin mereka mencabik-cabik perasaanku. Berteriak! Apapun akan aku lakukan untuk menghindari mereka membangun sarang. Akan aku mahkotai kepalaku dengan sesuatu yang menghalau mereka. Aku akan menari dengan irama dentuman yang berbeda dengan perasaanku yang tercabik oleh karena pikiranku. Tenang. Kepalaku akan ringan oleh karena mahkotaku. Tangan dan kakiku akan menarikan tarian bersama Sang Pencipta. Pikiran dan perasaanku akan mendapat nyanyian baru.