Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

King for a Day

When you get what you want in your struggle for self, and the world makes you king for a day, just go to a mirror and look at yourself, and see what that man has to say. For it isn’t your father or mother or wife, whose judgement upon you must pass; the fellow whose verdict counts most in your life is the one staring back from the glass. Some people might think you’re a straight-shootin’ chum, and call you a wonderful guy, but the man in the glass says you’re only a bum, if you can’t look him straight in the eye. He’s the fellow to please your most dangerous, difficult test If the guy in the glass is your friend. You may fool the whole world down the pathway of years, and get pats on the back as you pass. But your final reward will be heartaches and tears if you’ve cheated the man in the glass by anonymous

Throught God's eyes

I am God's child. God created me and He loves me.  I was with God before I came into being.  He knew me then and He knows me now perfectly. He knows me through and through.  God loves me just the way I am. I am acceptable and lovable.  I am a beautiful child of God.  I have infinite worth.  All of creation is not complete without me.  I have been created individually. I am unique in all ways.  God created me as that unique person and He loves me.  God chose me as His own.  God lives in me and I live in Him.  He abides in me and calls me His child.  He want me to live fully and abundantly.  He frees me and gives me joy.  God gives me the gift of life throught His grace alone.  I accept God's love this day and know He will love me forever.  I thank God for the real person I am.  I thank Him for creating me and giving me life.  I thank Him for truth and love...

Bangun & Berjalanlah!

Saat ini pikiran ku tertuju pada salah satu sudut labirin yang bertuliskan, "seberapa berat masalah yang ku hadapi?" Mengapa jawabannya dapat berbeda dengan jawaban yang diberikan oleh orang lain? menyadari ini, aku tidak ingin terjebak. Aku tidak ingin terjebak pada akhir dari tujuan hidup. aku ingin merespon dengan tepat pada proses mencapai tujuan itu. Tidak menghidupkan masa lalu, tidak menggrogoti diri dengan target masa depan. Tetapi hidup dengan waktu dan kondisi sekarang. Mencoba untuk mengenali siapa diri ini, apa saja kelemahannya, namun tidak lupa juga dengan apa kelebihan yang Tuhan titipkan didalam diri ini. Belajar dari Elia yang berhadapan dengan nabi-nabi palsu dan Izebel yang menyebalkan (1 Raja. 19:1-18). Aku perlu membangun respon yang tepat. Tuhan menyediakan perbekalan yang cukup dan menyediakan penghiburan yang dibutuhkan. Apakah aku hanya akan meladeni pikiran dan perasaanku yang buruk dan kembali tertidur saja dalam perasaan depresive yang menghancur...

Baru

Terdiam. Mengusir semua pikiran buruk yang terbang memutari kepalaku. Aku tidak ingin membiarkannya membangun sarang diatas kepalaku Aku tidak ingin mereka mencabik-cabik perasaanku. Berteriak! Apapun akan aku lakukan untuk menghindari mereka membangun sarang. Akan aku mahkotai kepalaku dengan sesuatu yang menghalau mereka. Aku akan menari dengan irama dentuman yang berbeda dengan perasaanku yang tercabik oleh karena pikiranku. Tenang. Kepalaku akan ringan oleh karena mahkotaku. Tangan dan kakiku akan menarikan tarian bersama Sang Pencipta. Pikiran dan perasaanku akan mendapat nyanyian baru.

GAGAL

Tidak sedang mencoba untuk mengasihani diri. Setiap kita pernah gagal. Menghadapi rasa pahit kehidupan dan kemudian mempertanyakan dimana letak kenikmatan hidup. Mengapa langkah ini sudah sejauh ini? Rasa tidak dimengerti menyerang pertahanan diri. Namun mencoba untuk menyeleksinya dengan keterbatasan berpikir. Ya, untuk saat ini aku tidak bisa menerima dengan rasa dan tidak dapat menampung dengan pikiran. Aku harus menerima diri yang memang penuh dengan kerapuhan. Tidak ada cara lain selain maju mendorong diri. Tidak boleh berpikir. Tidak boleh merasa. Hanya harus bertindak untuk sesuatu yang benar. Jangan salah paham! Tidak berarti aku menjadi manusia yang tidak utuh karena meninggalkan perasaan dan pikiranku. Kedua hal ini memenjarakan aku dalam pusarannya yang mematikan. oleh karenanya aku harus mulai mencari kunci untuk membebaskan diri. Aku butuh waktu. Aku butuh dukungan. Aku butuh menerima diri. Aku butuh menata diri. Tidak lagi peduli betapa babak belurnya aku! Selangka...